Shiny Fallen Star

Da’wah Kanthi Tresna: Sebuah Otokritik

Posted by: tomtomaneh on: August 25, 2008

Hestutomo Restu Kuncoro

An article dedicated to Allah. In honor of the best mentor a very good friend of mine, Arif Dharmawan.

Pemikiran atau ide tentang hal ini muncul kira-kira 3 tahun yang lalu. Awal kemunculan pemikiran ini adalah sebuah pesan singkat yang dikirim oleh seorang adik kelas ke ponsel saya. Isi pesan ini kurang lebih adalah seperti ini, “Mas, kenapa sih mbak-mbak rohis (baca: aktivis da’wah) itu bisa bener-bener ramah sama temenku yang anak rohis juga. Tapi entah kenapa nggak bisa hangat kalau sama orang yang notabene bukan anak rohis. Kalau misalnya aku lg jalan sama akhwat rohis, pasti disapa dengan hangat. Tapi kalau misalnya aku jalannya sama temenku yang bukan anak rohis, kok rasanya dicuekin” Berawal dari kejadian itu, sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran saya waktu itu, Kenapa?

Pencarian jawaban atas pertanyaan satu kata itu membawa saya pada banyak alternatif analisis. Salah satu jawaban yang masuk diberikan oleh seorang AD (aktivis da’wah) di kampus tempat saya kuliah saat ini. Jawabannya: “Mungkin, ada kecenderungan di antara para AD untuk tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang notabene bukan AD sebaik mereka berbaur dengan sesama mereka. Begitu mendapatkan jawaban ini, pikiran saya kembali ke sebuah permasalahan klasik di pergerakan da’wah SMA: kenapa para AD akhwat lebih sering menghabiskan waktu istirahat sekedar bersama dengan mereka yang notabene juga AD ?

Bukan tindakan bijaksana terburu-buru mengambil kesimpulan. Namun saya rasa cukup adil ketika saya mengambil kesimpulan bahwa MEMANG ada tembok imajiner yang “membatasi” kehidupan para AD dan mereka yang notabene belum aktifr dalam pergerakan da’wah, terlepas dari perbedaan ketinggian dan ketebalan tembok itu antara satu medan da’wah dan medan da’wah lain. Namun saya tidak ingin menyatakan bahwa eksistensi tembok ini adalah sebuah kesalahan atau sesuatu yang perlu dihilangkan. Karena, eksistensi sebuah tembok imajiner dalam interaksi sosial maupun individu adalah sebuah keniscayaan yang wajar adanya. Sebagus apapun kita berbaur dengan manusia lain, selalu ada hal yang membuat kita tidak bisa menghabiskan seluruh kehidupan kita bersama orang lain, bahkan bersama pasangan kita sekalipun. Dalam kehidupan pribadi tembok itu kita kenal sebagai “hal-hal privasi” Dalam kehidupan sosial, tembok itu punya banyak jenis dan rupa. Itu semua bukan masalah, selama ketinggian dan ketebalan tembok itu masih ideal dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu kebutuhan untuk berinteraksi.

Tembok itu menjadi masalah ketika kondisi tembok itu, entah karena atribut ketinggian atau ketebalan, menghalangi terbentuknya kondisi interaksi sosial maupun individu yang ideal. Banyak hal yang mampu menjadi alasan ketidak idealan tembok imajiner sosial itu. Dalam kasus yang sedang kita bicarakan (Aktivis da’wah dan orang-orang yang belum aktif dalam da’wah), banyak hal yang mungkin menyebabkan terjadinya tembok itu, di antaranya mungkin perasaan eksklusif yang tidak disadari hadir dalam proses hijrah, ketiadaan keinginan untuk memahami pemikiran dan perasaan orang lain, tidak adanya keterbukaan, dan hal-hal lain.

Bagaimanapun juga, terlepas dari kenapa tembok itu bisa hadir, saya mencoba mengawang-awang kondisi ideal interaksi sosial dalam pergerakan da’wah. Ketika kondisi tembok itu tidak sesuai dengan persyaratan ideal, saya melihat penyebab utamanya bukanlah teknik interaksi sosial antara AD dan non-AD. Saya meyakini bahwa ketika ketidak-idealan interaksi sosial terjadi, hal itu disebabkan oleh seuatu yang sifatnya lebih mengakar, lebih mendalam dan lebih mengontrol.

Apa yang saya maksud dengan sesuatu yang lebih mengakar itu adalah motif. Jadi, ketidak idealan itu terjadi karena adanya disorientasi motif yang hadir tanpa disadari. Disorientasi motif itu ada kemungkinan hadir dalam proses asimilasi AD ke dalam wadah atau badan. Saya pernah mendapati kasus seorang individu yang begitu yakin bahwa niatan yang ia bawa adalah niatan yang lurus, namun dalam diskusi kami kami menyadari bahwa ada sedikit disorientasi motif dalam sepak terjangnya: melanggengkan hegemoni badan atau wadah.

Keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah badan atau wadah sarana da’wah dapat dengan mudah di-misinterpretasikan. Bukan berarti bahwa keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah sebagai sesuatu yang salah, sama sekali bukan. Motif itu akan dapat tetap terkategori sebagai “niatan yang lurus” selama di balik niatan itu tidak lebih hanyalah keinginan agar bendera da’wah dapat terus berkibar, jika begitu keadaannya maka tidak masalah. Hanya saja, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, niatan ini punya kecenderungan untuk di-salah artikan dengan sangat-sangat mudah. Motif melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah dapat dengan sangat mudah menggeser paradigma orientasi da’wah para aktivis da’wah yang ada di dalamnya. Skenario paling buruk dari pergeseran paradigma ini adalah kecenderungan para aktivis da’wah untuk fokus pada hasil alih-alih pada proses.

Terkadang, tanpa disadari sepenuhnya oleh para AD, usaha da’wah yang mereka lakukan terlalu memaksakan untuk mengejar “target” lembaga da’wah tertentu. Hasilnya, terkadang niatan para AD cenderung manipulatif dan tidak menyerang akarnya. Apa yang saya maksud dengan manipulatif adalah proses berpikir “saya pingin ngeliat orang ini jadi kaya gini”, tanpa keinginan secara penuh untuk memahami pemikiran dan perasaan orang tersebut. Efeknya dalam tindakan, sikap ramah parsial (seperti telah dibahas sebelumnya), bersikap ramah (atau perbuatan lain yang juga menarik simpati) dengan motif agar orang tersebut simpati kepada para AD dan mau menerima pemikiran yang dibawa oleh AD. Para AD sering tidak menyadari ini sebagai suatu misplaced-action karena karakter tindakan seperti ini yang nampak begitu smooth dan non-manipulatif di luarnya. Well, tindakan seperti ini memang nampak smooth dan clean di luarnya, tapi sangat disayangkan motif sikap ramah itu sendiri pada awalnya manipulatif: agar orang yang kita perlakukan dengan ramah mau menerima pemikiran yang kita bawa.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah lalu bagaimana seharusnya? Dengan rendah hati dan menyadari semua kealpaan saya sebagai manusia, saya ingin mencoba mengawang-awang sistematika yang ideal harusnya seperti apa.

Pertama dari tujuan, saya rasa semua AD sudah sangat paham tentang hadits pertama dalam kumpulan 40-an hadits yang dikompilasi oleh Imam Nawawi: tujuan  hanyalah Allah. Berawal dari niatan yang begitu mulia ini, AD harus memahami bahwa parameter keberhasilan AD sebagai hamba Allah dalam berda’wah bukanlah capaian fisik sistem da’wah. Lebih jauh harus dipahami bahwa tanggung jawab AD dalam berda’wah adalah mengajak BUKAN MENGUBAH. Tujuan akhirnya memang adalah perubahan individu yang berujung pada hijrahnya sebuah peradaban. Namun sangat tidak bijaksana jika dalam usaha mengejar hasil, AD mengabaikan mengabaikan sebuah prinsip penting.

Prinsip penting yang saya maksud adalah keinginan untuk memberikan yang terbaik pada objek da’wah AD (yang sebenarnya bukan objek sama sekali). Pelanggaran prinsip ini sering berujung pada tindakan manipulatif di mana AD terlalu fokus pada capaian akhir fisik (dalam usaha menghadirkan kekuatan dalam lembaga da’wah sehingga lembaga da’wah itu dapat memepertahankan hegemoninya), tanpa memperhatikan secara tulus pribadi objek da’wah yang bersangkutan. Contoh yang kongkret sudah saya bahas sebelumnya: tindakan simpati manipulatif dalam usaha mencapai tujuan akhir itu.

Seharusnya menurut saya, prinsip ini dijalankan secara sinergis dengan tujuan da’wah dan tanggung jawab AD dalam da’wah itu sendiri. Inilah prinsip yang saya sebut dalam judul sebagai Da’wah Kanthi Tresna, sebuah kalimat bahasa jawa yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maknanya Da’wah Dengan Cinta. Aplikasi prinsip ini adalah sebuah kesadaran sepenuhnya akan hakikat kita sebagai hamba Allah dan kewajiban kita untuk mencintai sesama muslim maupun hamba Allah, karena Allah. Lebih lanjut, ketika kita mampu mencintai orang lain karena Allah, sudah menjadi hal yang lumrah ketika kita mengharapkan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai. Dan hal yang terbaik untuk semua hamba Allah, tanpa perlu disangsikan, tentu saja kedekatan dengan Allah. Dalam usaha memeberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai, kita akan mengajak mereka untuk dekat dengan Allah, tentu saja dengan berda’wah. Jadi motif da’wah kita seharusnya tidak lebih daripada sekedar bentuk eksppresi cinta kita (yang hadir karena Allah) kepada saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama hamba Allah, sebagai sinergi motif utama kita mengharap ridhoNya.

Jika proses berpikir AD dilakukan dengan cara seperti ini, insyaAllah tidak akan ada lagi pemikiran maupun tindakan manipulatif dalam mencapai capaian fisik sebuah sistem da’wah. Simpati yang hadir dalam diri objek da’wah kepada AD hadir sebagai bentuk tanggapan otomatis stimulus cinta yang hadir dari dalam diri AD kepada orang-orang yang dida’wahi. Dalam aplikasinya, ketika AD bersikap ramah dan hangat kepada objek da’wah, tindakan itu didasari secara penuh dan secara tulus sebagai ekspresi cinta. Kehadiran cinta dalam da’wah juga akan menghadirkan keinginan untuk secara tulus mendengarkan dan memahami pemikiran serta perasaan objek da’wah oleh AD.

Lalu apakah salah menetapkan capaian fisik dalam da’wah ? Tidak, sama sekali tidak, selama capaian fisik itu dibuat tidak lebih daripada sekedar sistem untuk mengevaluasi metode. Namun  satu hal yang perlu diperhatikan, jangan sampai capaian fisik itu menjadi acuan utama tindakan da’wah para AD sehingga melupakan urgensi hadirnya motif cinta dalam pergerakan da’wah mereka.

Wahai saudaraku, mari belajar mencintai saudara-saudara kita secara tulus. Ketika berda’wah, hadirkan motif karena kita menginginkan yang terbaik untuk saudara-saudara kita… Kedekatan dengan Allah…

Wallahu’alam bishowab

Tes Tes

Posted by: tomtomaneh on: May 25, 2009

ddfskhfdskhkdsfkjdfshkjfdshkfds

haloo,,,,

tes

Obsesi Menikah: Bukan Milikku Saja

Posted by: tomtomaneh on: January 5, 2009

Kalau baru membaca judulnya, pasti mata langsung melotot dan tekanan darah langsung naik. Kok menikah jadi digambarkan seperti penyakit psikologis sampai ada obsesinya.. Mungkin malah perlu dibikin iklan layaknya iklan rokok di televisi.. Obsesi: Menikah

Tapi sabar bang, dhe, bu, kak, pak, yang (ups!!).. ini bukan tentang penyakit psikologis kok..tapi tentang sesuatu yang sangat mendasar..

Jadi inget, seorang teman saya yang bernama Novrian, (bukan nama sebenarnya, karena nama sebenarnya adalah Nopren :P ) pernah mendatangi saya, ujug-ujug (baca: tiba-tiba) bilang.. “Wah sesuk delok wae,, sik dha mbojo kae, engka aku takmlaku nggandheng istriku nang arepe, takgawe iri” TUT!! terjemahan: Wah lihat aja, besok aku bakal jalan di depan orang2 yang pada mojok itu menggandeng istriku, biar pada iri”… wah pernyataannya memang tampak radikal sekali..tapi klo dilihat “between the lines”, ini sebenarnya maknanya luar biasa sekali: Dia pengin menunjukkan bahwa ada cara yang lebih mulia untuk mengekspresikan cinta: yaitu dengan menikah. Dan Alhamdulillah teman saya ini cukup terjaga dr aktivitas pacaran, bahkan hingga saat ini. Sayangnya dia belum menikah.. :P

Pernyataan berikutnya yang menarik, muncul pula dr teman saya yang bernama Hendra (bukan nama sebenarnya juga, karena nama sebenarnya adalah Yunan :P ) dia pernah bilang dengan setengah bercanda seperti ini, “Aku nggak pengin nikah”, “aku tu dah butuh nikah”.. kontan saya tertawa mendengarnya,,, tapi nggak serius kok..ya mungkin dikit,,tapi satu hal yang ingin, dan saya rasa harus, digarisbawahi adalah, tidak salah kemudian kalau kita merasa ingin, atau bahkan butuh menikah di usia-usia kuliah.

Ya, kalau saya sendiri sih merasakan memang berat hidup di tengah masyarakat yang seperti sekarang ini, dalam keadaan membujang. Banyak godaannya,,,apalagi kalau kemudian harus hidup di Kota Yang Banyak Kembangnya..hu hu hu..Apalagi klo kemudian kita benar-benar harus menjaga dengan benar-benar gt..wah berat fren…dan rasanya mimpi tentang sebuah kehidupan akan cinta yang suci ternaungi syari’ah pernikahan, dan berujung surga, bisa membantu juga menjalani semuanya..

Hal berikutnya yang menarik adalah pernyataan, atau lebih tepatnya pertanyaan dari seorang akhwat kepada saya, pertanyaanya begini..”Mas, kenapa tho ikhwan kok seneng banget ngomongin nikah-nikah”, pertanyaan ini saya jawab dengan sebuah pertanyaan lagi, “lho, emangnya akhwat g pernah ngomongin nikah2 gt?” dia njawab, “Pernah sih Mas, tapi kelihatannya g separah ikhwan-ikhwan”..

wah wah wah…ternyata beberapa akhwat lain membenarkan..dan kdg-kdg, katanya, buat akhwat jd bikin nggilani (nggak tahu bahasa Indonesianya,,,) klo tahu ada ikhwan yang sering ngomongin nikah.. (berarti mesti akeh sik gilo ro aku..). Tapi intinya gini lho Ukh..sebenarnya g beda-beda banget kok..cuma klo ikhwan itu lebih expressif untuk urusan kaya gini.. gt aja..tapi yakin wis nggak ada niatan aneh-aneh…

Yep tapi memang pada akhirnya..ngana y ngana, ning ya aja ngana (arti: gt yha gitu tp ya jangan begitu…pusing?? segera tanyakan pada teman anda yang berbahasa jawa). Punya mimpi untuk menikah demi keterjagaan itu baik..yg penting, jangan njuk jadi terlalu kepikiran dan melakukan hal yang “aneh-aneh”. Soalnya pernah ada seorang akhwat yang protes sama aku, gara-garanya ada tmennya yg sering “ditelpon-telpon g jelas sama ikhwan”. Wah klo gini juga bisa membahayakan juga. Ya uda la ya… intinya..hati-hati aja..tp juga jangan terlalu kaku..

ho ho ho…

akhirnya saya hanya ingin bilang, Obsesi Menikah, Bukan cuma milikku saja oi!!

nyoba

Posted by: tomtomaneh on: December 31, 2008

doc1

Tentang Isra Mi’raj

Posted by: tomtomaneh on: December 31, 2008

Well, sekrang mungkin memang bukan waktu yang berdekatan dengan Isra Mi’raj, tapi sebuah pikiran hinggap d otak saya kemarin, dan membuat saya ingin menulis sesuatu tentang Isra’ Mi’raj. Tapi maaf, bukan dalam kaitannya dengan fiqh aqidah, tapi sesuatu yang lain.

Seperti yang kita semua telah ketahui, dalam semalam, Rasulullah SAW melesat dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha d Al-Quds, kemudian masaih melesat lagi hingga melewati tujuh lapisan langit, hingga akhirnya ke Arsy dan bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah langsung mengenai sholat. Dan yang luar biasanya, semuanya menghabiskan waktu hanya semalam. Dan karena mempercayai hal inilah, Abu Bakar r.a. mendapat julukan Asshidiq.

Kita di sini punya dua fenomena. 1. Rasulullah pergi dari Mekah ke Al-Quds dalam waktu singkat. 2. Rasulullah melesat bersama Jibril hingga melewati langit ke tujuh, kemudian ke Arsy untuk bertemu Allah.

Untuk fenomena pertama, saya rasa itu bukan sesuatu yang perlu penjelasan lebih lanjut. Karena, saat ini, manusia biasa pun bisa melesat dari Mekkah ke Al Quds hanya dalam beberapa jam. Dan jika manusia bisa, mengapa Allah tidak bisa melesatkan RasulNya?

Yang menarik adalah fenomena yang kedua. Sebelum kita membahas lebih jauh, saya ingin membuat asumsi bahwa ketika Rasulullah SAW bepergian dengan malaikat Jibril, beliau bepergian dalam kecepatan cahaya. Saya berasumsi seperti ini karena malaikat terbuat dari cahaya, dan karena itu adalah cara paling mudah untuk melaju menembus tujuh langit hanya dalam waktu satu malam.

Pada keadaan biasa, bergerak dengan kecepatan cahaya (atau dengan kecepatan  c) bukanlah sebuah pilihan. Ada beberapa alasan

1. Ketika sebuah benda mengalami percepatan, benda itu akan mengalami gaya yang besarnya  m x a (Hukum Pertama Newton). Tentu kita pernah mengalaminya ketika berada di atas mobil yang diakselerasi atau mengerem mendadak.  Gaya ini kadang-kadang bisa jadi sangat besar, saya sendiri pernah muntah gara-gara menaiki mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak sehingga punggung saya membentur jok mobil dengan momentum yang lumayan besar. Nah gaya maksimum yang mampu diterima oleh tubuh dan masih akan membuatnya tetap utuh kurang lebih sebesar 3G (tiga kali gravitasi bumi). Percepatan yang diperoleh agar gaya maksimum yang diterima tubuh tidak lebih dari 3G butuh 5 jt detik atau 2,5 bulan untuk mampu mencapai kecepatan cahaya. Dan ini  yang membuatnya menjadi halangan, perjalanan Rasulullah hanya semalam.

2. Semakin cepat sebuah benda bergerak, masanya bertambah. dalam hitungan matematis, ketika benda bergerak dengan kecepatan c, masanya akan menjadi tidak terhingga, dan karena hal inilah hanya benda-benda tak bermasa, seperti cahaya, yang mampu bergerak hingga kecepatan c.

Dua halangan ini membuat saya memikirkan dua alternatif cara yang mungkin, d sini saya katakan mungkin karena tidak ada cara yang dapat saya lakukan untuk benar-benar mengetahui apa yang terjadi, jadi yang mungkin terjadi adalah..

1. Dari Masjidil Aqsha hingga menembus tujuh langit, Rasulullah tidak bepergian bersama tubuhnya, melainkan hanya dengan ruhnya. Jika kita berasumsi bahwa ruh tidak memilliki masa fisik, maka dua masalah kita yang ada di awal akan terpecahkan. Karena ruh tidak memiliki masa, ia tidak akan rusak bahkan ketika harus dipercepat dengan kecepatan 1000 G sekali pun. Selain itu, massa yang nihil juga membuatnya mampu mencapai kecepatan cahaya.

2. Di Masjidil Aqsha, sebelum mengalami perjalanan, Rasulullah diurai materi tubuhnya hingga menjadi potongan kuark-kuark. Potongan kuark masanya sangat kecil, hingga possible untuk dipercepat hingga kecepatan cahaya tanpa mengalami kerusakan. Kemudian potongan-potongan itu disusun kembali hingga membentuk materi fisik. (ide ini mengingatkan saya pada film lorong waktu yang dibintangi Dedy Mizwar) Memang alternatif pilihan ini membutuhkan energi yang sangat besar, jika diinterpretasikan dengan suhu, maka untuk bisa mengurai satu individu  manusia hingga tingkat kuark, manusia perlu dipanaskan hingga 1 jt kali suhu inti matahari. Dan inilah yang membuat teknologi yang melibatkan pemindahan manusia pada kecepatan cahaya tidak mampu direalisasikan di bumi.

Ada satu alternatif lagi diluar dua pilihan itu, yaitu Allah, dengan kuasanya, mengakselerasi Rasulullah secara utuh tanpa menimbulkan kerusakan hingga mampu menghadapNya. Tapi alternatif ini tentu saja akan membuat kita berhenti sampai di sini.

Yang jelas, pilihan mana pun yang benar, telah menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah atas langit dan bumi. Allahu akbar..
Wallahu’alam bishowab

Media’s Bias-Coverage Got To Be Ended

Posted by: tomtomaneh on: December 30, 2008

Most of international media coverage of the ongoing clash between Israeli and Palestinian has been of ridculous manner. International media focus mainly on Hamas rocket attack onto southern Israel. As if to justified Israeli’s brutal attack (or massacre would be more like it). The International media have been quiet about the fact that it was Israeli who broke the ceasefire on the November 4th, 2008 when 6 palestinian died.

BBC

In a news report on December 28th, 2008, BBC’s  interviews with Israeli officials stressed the notion that Israel’s citizens were in danger. The BBC report emphasized the Palestinian rockets, how Hamas has acquired rockets with a longer range that can reach more Israelis, while showing footage of Israeli civilians scurrying towards their homes in anticipation of a missile launch. Israeli Foreign Minister Livni was shown dismissing the high death toll in Gaza, saying that the question was not to count numbers here and there, not of how many people had died, but that Hamas is a “terrorist organization” and a dangerous threat to Israel’s civilians. Sadly, however, it is a question of numbers, especially when so many of the 350 killed and over 1600 injured (so far) are women and children. As stated, this act violates international law.

CNN

In a news report on December 28th, 2008, CNN reported: “Israelis and Palestinians begin to bury their dead.” This is a blatant example of the Western media’s penchant for equating the Palestinian and Israeli predicaments. The truth of the matter is that Israel lost one civilian, with five others injured.  Over 300 Palestinians were killed and nearly 1500 injured.  Is this fair reporting? Palestinians are shown expressing their frustration, with images of burning tires, and Palestinians taking to the streets and protesting forcefully. Next to this, Israelis are shown burying their dead in a quiet manner that stands out in contrast to the emphatic Palestinian protests, thereby representing the Palestinians as a less civilized people. But the plight in Gaza is far more catastrophic in comparison to Israel, and definitely warrants such vigorous protests. Maybe Israeli mourning wouldn’t be as complacent had they lost over 300 of their own.

FOX NEWS

In a report aired on December 28th, 2008, Fox News showed an Israeli official reciting the familiar sound bites about “one million Israelis” being in danger of being struck by rockets, Israel having to “protect its people,” and the inability of Israeli children to sleep at night for fear of the Hamas missiles. No other opposing view was presented in that report. The anchor made a feeble attempt to  criticize the Israeli incursion—namely, that Israel did not only target Hamas militants—and the official replied vaguely by saying that Israel is trying to “minimize the damage to civilians,” even when all the evidence points to the contrary.

Another fact that tend to be overlooked by International media is that Gaza is one of the world most dense populated region. Launching  brutal missiles attacks onto such area is the same as wilful intent to kill civilians. Such action can be clearly classified as war crimes and violating International law such as Fourth Geneva Convention. But none of the western news media dared to raise such issues or aired interviews of international law expert regarding this matter.

This kind of bias on international media could hurt the peace rally on the middle east. Such action are a purposeful action to demonizing palestinian courage to defend themselves and to maintain peace, an action which coulod lead to further Israeli’s attack. So Raise Your Voice, Let Gaza be Heard!!

Gaza Strip: Israeli’s Desperado

Posted by: tomtomaneh on: December 30, 2008

Roughly 300 palestinian were killed, and 1700 others were injured during Israeli’s military campaign on Gaza Strip. Various responses were raised by the world, may it be Isareli-Pro such as those from Deutch and Australia, or the Palestinian-Pro statement that had been released by various government such as Iran’s and Indonesia’s.

The official reason of the attack is retaliation against rocket attacks that have been launched by Hamas onto the southern Israel during the blocade. However, this so called retaliation have been seen as both “overreacting and unproportional” to be consider a “just retaliation”.

I see the attack on Gaza Strip as desperate measure taken by Israeli current government to maintain their hegemony on the middle east. It’s clear that the attack is an attempt to exterminate Hamas. A faction which Israeli has failed to exterminate using other method. For years, Israeli have been trying any sort of way, war or diplomatic, soft and violence to exterminate Hamas and its resistance against Israel along the Gaza strip.

However, the lattest policy (military policy to be exact) is widely considered to be overreacting and unproportional. In other words, this attack can be seen as desperate action. The stake is high here for Israel. Their attempt to weaken Hamas power and position could backfired to them. This is so because on this attack, the world sees Hamas as the victim, and not the criminal. (thanks to massive and unproportional attack by Israel). And Hamas may gain symphaty from throughout the world due to this situation.

According to Ehud Barak, right now Israel is ready to fight untill the end. And i think that’s exactly what they intend to do. The only happy ending there is for Israel right now is a full extermination of Hamas. If, by any means Israeli failed to gain full control of Gaza Strip,, or on the worse case scenario, repelled and lose plenty of their firepower in the attack, Israeli will face a grave situation: not just losing significant amount of their military power, but also will give Hamas and The Palestinians huge symphaty and support by the world.

So,, i realy believe Israel will go Gung Ho this time. Coz, they have to. But surely Hamas and the palestinians will make it tough for them to do so. If Israeli can’t defeat Hamas in all these years, why can they know? But it’s also true the other way around, if Hamas can’t defeat Israel after all those years why can they know? But of course, the situation is different here, Israeli’s desperate (and a little careless) measure have make the stake’s high for them, way high.

So Hamas just need to defend, but of course with all the high-end military craft and firepower The Israeli won’t go easy on Hamas..

So Who’ll win?? well, we’ll see…

Baikkah Kau di Sana

Posted by: tomtomaneh on: December 25, 2008

Masih adakah separuh hatiku, yang  kuberikan hanya untukmu?

kuharap kau masih menyimpannya. Jangan kau pernah melupakannya..

Huff.. berat memang melupakan dan melangkah maju. Ketika hati pernah terikat, mencintai, bersama dalam asa..berat untuk kemudian berpura-pura bahwa tidak ada yang pernah terjadi.

Dalam hari-hariku, tiap langkah yang kuambil, ingatkan aku akan jalanan yang pernah kita lalui bersama. Entah dalam bahagia, atau dalam duka. Kita memang pernah bersama, melewati hari-hari bahagia, melewati masa-masa suram, bersama.

Huff.. bayang-bayang itu hadir lagi hari ini… sebuah lagu dari Andra N The Backbone ingatkan aku lagi pada dirimu. . di mana engkau saat ini? aku nggak pernah tahu? dengan siapa kau saat ini? aku nggak tahu? bahagiakah engkau? sedihkah engkau? aku nggak pernah tahu semua itu!! karena engkau tak lagi bersamaku. Tapi entah mengapa, aku masih merasa cemburu saat mengetahui engkau telah dibersamai orang lain. Namun entah mengapa, aku masih sangat ingin melihat senyum bahagiamu.

setiap kali aku melihat engkau terjatuh, aku akan berlutut dan mendoakanmu…

karena bahagiamu adalah bahagiaku..

Kenapa??

Entahlah..mungkin karena aku<em> memang </em> masih mencintaimu.. ya aku yang hina ini, masih mencintaimu..

Mungkin salahku juga, nggak bisa tegas, nggak pernah cukup berani menyampaikan isi hati. Tapi memang, dirimu, bagian dari masa laluku. Dirinya, sosok baru hidupku saat ini. DI masa depan, entah dikau atau dia.. aku sebenarnya masih ingin berharap.., bermimpi membersamai dirimu.,. namun cukup-cukup-cukup.. aku sudah kehabisan keberanian,, ya aku yang pengecut ini telah kehabisan keberanian untuk bisa bersamamu…

Maaf-Maaf-Maaf… semoga engkau bisa bahagia bersamanya. Semoga engkau bisa melupakanku..walau aku nggak pernah bisa melupakanmu,,, huff.. huff.. huff..

everytime i think of you, i get a shot right trough into with a bolt of blue… kesedihan, penyesalan, harap..mimpi,, semua menumpuk bercampur…

semoga kita bahagia dengan kehidupan kita amsing-masing, aku sendiri telah menemukan orang yang bisa kucintai sepenuhnya, sebagaimana aku dulu mencintai.. dan aku telah yakin dia untukku…  maaf, selamat tinggal…

What is A Name?

Posted by: tomtomaneh on: December 13, 2008

wuz.. yup.. akta-kata itu adalah kata-kata Shakesphere dalam salah satu karyanya. What is a name? A rose without it’s name will still be beautiful. wuzz,, kata-kata yang dalam… yang isinya, nggak ada gunanya kita membanggakan nama keluarga kita. Karenakalau kita mawar, kita akan tetap indah walau nama kita bukan mawar. Bukan berarti nama itu g perlu, kalau nggak ada nama, gimana coba kita manggil temen kita. Masa “Ukhti #1, tolong bilang ke Akhi #12, ntar sore rapat bareng sama Akhi #7″, bayangkan betapa hambar dan datarnya dunia..

Oleh karena itu, masing-masing dari kita punya nama kita masing masing yang unik. Dan di kesempatan ini, aku mau membahas namaku.

HESTUTOMO RESTU KUNCORO

Yup, itu nama memang Jawa banget.

Sebenarnya nama ini plesetan (upps!!) beneran nih..  Jadi, dulu, waktu Mom and Dad (wuzz sok barat banget!!) mau ngasih nama, konsepnya itu gini.

HESTI UTOMO RESTU KUNCORO

yang artinya Hesti(keinginan/tekad) Utomo (baik) Restu(diridhoi) Kuncoro(terkenal)

jadi, maksudnya Papa dan Mama ngasih nama itu tuh…doa supaya anaknya jadi anak yang Selalu Punya Tekad Yang Baik, Mendapat Ridho, dan Terkenal (kebaikannya tentu aja). Tapi, karena nama Hesti terdengar seperti nama buat cewek.. Akhirnya dputuskan bahwa namaku jadi HESTUTOMO….

Yep begitulah sejarahnya.. walaupun nama ini very Javaneese.. Tapi sebenarnya bahasa jawanya masih simpel, paling bingungnya di HESTUTOMO, tapi kalau udah tahu itu pecahannya jadi HESTI UTOMO, orang jawa yang biasa pun, pasti langsung tahu artinya.

Soalnya nama itu g sulit-sulit banget.. Malah ya, kalau besok aku punya anak, pingin dikasih nama dengan nama jawa yang lebih aneh lagi..

misalnya: NGAHAYUNING MAYAPADA LESTARI

atau klo putra: SATRIYO BAWONO LANGGENG

wuzz,, jadi keliatan jawa sekali.. tapi ntarlah, tergantung Istri juga.. anak-anak mau dikasih nama Jawa, atau Arab.

Oh ya, satu hal yang menarik terjadi ketika aku membaca novel Ketika Cinta Bertasbih karangannya Kang Abik. Dulu kan waktu SMA, ketika pertama kali aktif di rohis, baru kenal istilah Ikhwan, Akhwat, Afwan, Syukron,, trus rasanya semuamuanya mau di Arab-arabin..  nyampe ngomong jd g jelas gt bahsanya..

trus nyoba ngarabin nama, kata pertama doang sih..

HESTI UTOMO… apa ya.. baik itu khair.. trus tekad itu kan ‘azzam.. berarti namanya jadi Khairul Azzam.. wuss waktu itu dah nampak keren.. (maklum, lg semangat-semangatnya)…

Nah, pas baca KCB.. tokohnya..lho kok sama???? Kang Abik dapat ide dari mana ya?

Harmoni Dua Cinta: Spoiler

Posted by: tomtomaneh on: December 12, 2008

“Mas, kalau memang Mas menemukan sesorang yang lebih baik daripada Marla, Adik bisa ngerti Mas”, marla berkata-dengan mata berkaca-kaca.

Aku benar-benar kaget mendengar kata-katanya. Aku sama sekali tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.

“Mas, dua tahun yang sudah kita lewati bersama sudah mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa untuk hidup Adik. Kehadiran Mas Ryan dalam  kehidupan Adik, Adik rasakan begitu indah dan membuat setiap detik hidup Adik terasa bermakna”, suaranya mulai sesengukan, namun ia masih berusaha mengendalikan emosinya.

Aku masih terdiam, kupalingkan mataku dari matanya. Entah mengapa, aku bisa merasakan rasa perih yang terlihat di matanya setiap kali aku menatapnya. Mata yang selalu dipenuhi binar bahagia itu kini berbalut air mata kesedihan. Selama ini aku selalu berusaha agar matanya tidak dipenuhi apapun selain kebahagiaan dan keceriaan. Ketika akhirnya kesedihan harus hadir di situ, aku sama sekali tidak menyangka bahwa dirikulah yang akan menjadi penyebabnya.

“Tapi…”, Marla melanjutkan kalimatnya. “Marla faham kalau seorang Mas Ryan berhak untuk mendapatkan yang lebih baik.

“Dik, kenapa Adik berkata seperti itu?”, aku bertanya, mengharap jawaban untuk mengobati rasa bingung diriku.

“Mas tentu tahu kalau Adik punya kebiasaan membaca inbox ponsel Mas Ryan. Di stasiun waktu itu, Adik melakukannya Mas, dan di inbox Mas Ryan Adik menemukan sms-sms dari seseorang yang bernama Anita”, Marla menjawab. Air mata sudah mulai mengalir ke sudut-sudut pipinya, namun suaranya masih terkontrol.

Aku langsung menyadarinya, Marla pasti membuka Inboxku dan melihat cukup banyak nama Anita di situ. Seandainya dia membaca sms-sms itu dia pasti sadar bahwa aku dan Anita tidak lebih hanyalah dua orang sahabat.

“Dik, tolong jangan salah paham, Kalau misalnya Adik baca SMS-SMS itu, tentu Adik akan paham kalau-”, kata-kataku terpotong

“Adik sudah baca semua sms-sms itu Mas. Dan Adik paham betul bahwa seorang Anita adalah wanita yang luar biasa. Ketika Adik membacanya waktu itu, Adik sebenarnya sudah punya perasaan buruk. Setiap detil kehidupan Mas di Bandung pasti Mas ceritakan ke Adik, tapi sama sekali Mas nggak pernah menyebut nama Anita, padahal inbox Mas berisi banyak SMS dari dia Mas. Sebenarnya Mas, siapa pun yang masuk ke kehidupan Mas, Adik nggak pernah keberatan, selama Mas cerita ke Adik dan selama hal itu nggak mengubah sikap Mas kepada Adik”, Suaranya mulai sesengukan tidak tenang.

Aku memang tidak pernah menceritakan tentang Anita dan kehidupan baru yang kujalani di Bandung. Sebenarnya hal itu ingin kusampaikan sejak dulu, hanya saja setiap kali aku bertemu dengan Marla, lidahku jadi kelu kalau harus menceritakan hal itu. Namun, aku sadar bahwa cepat atau lambat aku tetap harus menceritakan semuanya kepada Marla.

“Tapi Mas…”, Marla melanjutkan kata-katanya. “Selama dua minggu ini Mas berusaha menghindari Marla, dan itu benar-benar menyiksa Adik Mas. Kenapa Mas nggak jujur sama Adik sejak awal?”

“Dik, Maaf, sungguh hal terakhir yang ingin Mas lakukan adalah membuat sedih Dik Marla yang begitu Mas cintai. Hanya saja…”, aku menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. “Ada satu hal yang selama ini tidak Mas ceritakan pada Adik”

“Oke, Adik siap mendengarkan”, katanya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia duduk diam, menungguku bicara

“Selama Mas di Bandung, ada yang berubah dari kehidupan Mas”, aku memulai cerita dengan suara tertahan. “Di Bandung, Mas punya kehidupan yang berbeda dengan di Jogja”

“Berbeda?”, Marla bertanya dengan wajah bertanya-tanya.

“Ya”, aku mengangguk. “Di Bandung Mas aktif di kegiatan keislaman. Dari situ, Mas mengalami perubahan paradigma tentang pergaulan antara pria dan wanita”

“Perubahan paradigma?”, ia bertanya lagi. “Maksud Mas, seperti anak-anak rohis di SMA kita. Nggak boleh jabat tangan, boncengan, dan-pacaran?”

mau tahu lanjutannya?

Teman Teman Yang Kukagumi

Posted by: tomtomaneh on: December 12, 2008

Sebenarnya, waktu ide buat bikin tulisan ini muncul.. aku sempat bingung.. masalahnya, teman-teman yang kukagumi itu banyak banget,, tapi..setelah merenung dan bertap (wuizz lebay banget).. saya memutuskan untuk menuliskan beberapa. Well, mereka bukan yang paling istimewa,,, tapi let’s just say..mereka yang paling remarkable buatku…

Yang pertama adalah sahabat baikku nih.., namanya Reno Imam Artapersada (nulise bener ngene tho Mam?). Yang istimewa dari orang ini.., sebenarnya banyak.. di antarany, dia orang yang sangat stabil emosi dan langkahnya. Walaupun harus mengisi posisi puncak di sebuah organisasi, si Imam ini g runtuh gara-gara angin yang menghembus menggoyahkan. (huff kalau aku sih,, dasarnya nyantai,, ga suka ditiup angin). Trus, selain itu, si Imam ini juga lumayan konsisten dengan langkahnya, ini pula yang bikin aku kagum. Oh iya, ternyata si Imam ini punya banyak fans.. terutama dari kaum hawa.., hik hik….(dadi pengin ngguyu). Tapi dianya cool -cool aja nanggapinnya..  (apa sok cool??). Dan yang paling keren,, dia ini bijaksana banget..memilah-milah fakta dan membuat keputusan dengan berhati-hati..salut deh buat Imam.

Selanjutnya, masih temen SMAku. Namanya Arif Dharmawan. Orangnya kalem, pendiam (kadang-kadang he he.. sabar yo Rif..). Dan ia ini orang yang kata-katanya selalu bisa menyejukkan hati.  Huff.. iya bener.kalau Arif ngomong ya,, kalimatnya simple,, tapi makjebb menancap..tepat sasaran. Luar biasa banget pokoknya punya teman kaya Arif. Selama ini dia selalu yang jadi REM untuk opini-opini dan pandangan-pandangan liarku. Makasih banyak ya Rif..tapi sampai sekarang aku masih liar.

Trus, yang kukagumi lagi, teman kelasku, Fajar Budi Suryawan. Temanku yang lugu ini ( hoeek.. maksude lucu tur guoblok, peace jar, bcanda) orangnya cerdas, apalagi kalau berhubungan sama logika. Dia pernah jadi juara karya tulis tingkat nasional lho.. dan pernah sekali kami ikut kompetisi essay bareng tentang Ekonomi Syari’ah, dia menyabet peringkat pertama, sementara aku cuma peringkat empat (masalahnya kan aku waktu itu g serius,, nggak dink dia memang oke,, tapi cukup bangga juga, soalnya cuma ada tiga anak IPA yang bisa masuk final). Trus selain otaknya oke, fisiknya juga oke (baca: fisik kuli :P ) dia kalau main sepak bola kayanya g bisa capek.. melayu melayu terus ngana… kaya kancil.. Nevertheless, dia salah satu orang paling cerdas yang pernah kutemui.. salut buatmu kawan..kapan mau nulis lagi? ayo kita bersaing lagi..aku kangen..

Oh ya selanjutnya masih tmenku SMA juga, Mbak Kholifaturrosyidah Fitria. Akhwat yang akrab dipanggil Ifa ini (lho bahasanya kok jadi kaya reportase gt..) pernah kerja bareng ma aku dulu beberapa kali. Yang membuat aku kagum,, orangnya tangguh dan mandiri. Dia ini selalu bisa bertahan.. walaupun penuh luka mungkin,, di mana pun dia berada.. salut lah Sis! Selain itu mbak yang juga akrab dipanggil Ochi ini juga menurutku cerdas dan tegas, bisa mengambil keputusan yang tepat dengan cepat di saat yang gawat. Ini yang aku nggak pernah bisa pelajari sepenuhnya. Tapi walaupun Mbak Ifa ini tegas (dan kadang-kdang galak,,rada serem) tapi ternyata kalau dia mau dia bisa jadi sopan banget lho.. (tapi klo karo aku kq banyak nesune tho? apa aku yang kebangeten karo sampeyan yo mbak?)

Selanjutnya, ini rekan kerjaku di Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB, Sari Yusriati. Akhwat pendiam (sangat pendiam kayanya) ini kebetulan kerja bareng ma aku di proyek yang sama. Dia ini, menurutku bukan manusia (di dalam konotasi yang baik tapi ya..) Soalnya dia itu kayanya g bisa capek dan g butuh istirahat. Kayanya lho. kebanyakan oirang akan lelah fisiknya atau lelah hatinya ketika menghadapi tekanan organisasi yang intensif. Dan biasanya akan kalah dengan salah satu kelelahan itu. tapi Ukhti yang satu ini tetap bisa bergerak dan terus bergerak,. dari pagi, ampe malem, trus pagi lagi, trus ampe malem lagi.. Wuh… keren… salut lah buat Sari!

Ini yang terakhir di dalam list ini, tapi bukan berarti orang yang kukagumi cuma mereka ini..aku masih punya banyak teman-teman lain yang luar biasa, ada Bos Yopie, ada Ella, ada Vita, ada Yoga, ada Rina, ada Alvi, ada Dhewo, ada yang putih dan ada yang merah, setiap hari kusiram semua.. eh ntar ntar..jd ngelantur… ya udah intinya itu aja…