Category Archives: Islamic

Di Sini Aku Kembali

Disini aku mengharap ridho-Mu

Disini aku menghiba rahmat-Mu

Disini aku tambat munajatku

Berazzam aku kembali

Tapak-tapak hidup kujalani

Fatamorgana dusta kutemui

Lupakan diri hadapkan wajahku

Hadirkan Agung-Mu dalam asaku

by: Izzatul Islam

———————————————————————————–

Begitu sering dalam hidup kita, sekilas maupun lama, dalam maupun dangkal, kita mengingkari Allah. Terkadang, kita menyadari sepenuhnya keingkaran kita, namun still go on with it nevertheless, terbutakan keinginan duniawi yang semu, namun indah menipu. Namun tak jarang, tanpa menyadari sepenuhnya bahwa kita ingkar, kita mencari justifikasi atas keingkaran yang kita lakukan, membuatnya terlihat indah, heroik, bahkan romantis di mata manusia, namun nggak lebih daripada sampah dalam pandangan Allah.

Aku pernah berada pada titik terendah dalam hidupku. titik itu bukan ketiadaan dana untuk makan malam ini, titik itu bukan keterpurukan akademis, titik itu bukan ketiadaan kekasih tuk menemani hari. Titik terendah kurasakan ketika hatiku terasa gersang. Jauh dari ketaatan, dekat dengan kemungkaran. Jarang Amal Sholeh, kerap maksiat. Mengabaikan Allah, mengikuti hawa nafsu… Astagfirullah..

Ingin rasanya, menghilangkan semua keinginan duniawi agar diri takkan pernah lupa denganNya. Namun aku yakin, semua ini cobaan dan lika-liku hidup. Jika kita memandangnya sebagai kesulitan, maka begitulah ia, jika kita menganggapnya sebagai ujian kemuliaan, kita kan tersenyum. Aku hanya tak ingin, dalam keadaan ingkar, izrail menghampiri menyapaku, menraikku keluar dari jasadku, menghadap Allah, sementara diriku masih dalam kemungkaran. Aku hanya tak ingin, menangis di hadapan Allah nanti, menyesali setiap inkar yang kututup-tutupi, setiap maksiat yang kuindah-indahkan.

Di sisa nafas jasad ini, sungguh amat indah bila dalam setiap langkah kita, mita mampu merasakan Allah hadir bersama kita begitu dekat, begitu nyata. Tidaklah kita melangkah kecuali tanpa rasa takut melainkan kepada Allah. Tidaklah kita berbuat, melainkan sekedar untuk berharap ridhoNya. Dan tidaklah kita berdiam melainkan untuk menjaga diri dari murkaNya. Ketika kita telah merasakan ketulusan amal dan manisnya iman, kita akan lupa dengan semua kenimatan dunia lain…

Allah
Kuseretkan langkahku
Hasung dosakan kulebur
Kubasuh luka kuhempas nista
Izinkan aku kembali

Allah

Takkan lagi kusurutkan langkahku
Songsong fajar baru dalam cahya-Mu
Ya Rabbi teguhkan derap jiwaku
Tiap desir nadiku sebut asma-Mu

Disini aku kembali….

Advertisements

Berislam Secara Relevan

Kata relevance dalam Bahasa Inggris bermakna berhugungan dan sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan. Kalau kita bicara soal kaktus, maka semua hal yang berhubungan dengan kaktus, seperti misalnya tempat hidup, cara perawatan dan cara reproduksi kaktus adalah hal yang relevan. Sedangkan hal-hal yang tidak berhunbungan atau tidak sesuai dapat kita katakan tidak relevan.

Dalam hal beragama Islam, relvansinya adalah pihak yang paling kompeten mengenai hal tersebut. Sebagai contoh, kalau kita diberi izin oleh Allah untuk membeli sebuah sepeda motor, tentu bersama dengan motor itu sendiri, kita akan diberi sebuah buku panduan. Buku panduan itu berisi berbagai hal tentang motor yang kita beli, termasuk cara dan panduan perawatan. Dan tentu saja semua hal yang termaktub di dalam buku panduan itu adalah hal-hal yang sifatnya relevan dengan keadaan motor yang kita beli.

Pertanyaannya adalah, mengapa perusahaan penjualan dan perakitan motor menyertakan sebuah buku panduan dalam paket pembelian motor? jawabannya simpel, karena memang perusahaan manufaktur motor tersebut adalah orang yang paling paham keadaan pabrikan motor yang kita beli. Dalam hal menjalani hidup, parameter relevansinya pun haruslah pihak yang paling paham tentang hidup itu sendiri, yang tak lain dan tak bukan adalah Sang pencipta hisup itu, tentu saja Allah.

Menggunakan buku panduan perawatan mobil sebgai panduan merawat motor yang kita beli, adalah tindakan bodoh dan irrelevan. Sama halnya menggunakan standar subjektif manusia dalam memahami hidup dan menhkalibrasi nilai-nilai hidup. Paham berpusat pada subjektivitas manusia, atau yang populer dikenal dengan nama Anthroposentris adalah tindakan konyol dan irrelevan yang telah memberikan dampak instabilitas global dan regional di dunia. Perbedaan sudut pandang terhadap sebuah masalah yang sama akan menghadirkan konflik argumentasi yang hanya berputar pada sebuah lingkaran setan. Sikap menilai hidup denhgan subjektif dan irrelevan sebenarnya bukan sepenuhnya hasil pikiran manusia itu sendiri. Kalau kita menilik kembali ke dalam Al-Qur’an, diceritakan dalam Surat Al Baqarah ayat 30 bagaimana iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam a.s. Alasan iblis ketika menolakadalah DIA MERASA dia lebih baik daripada Adam a.s. karena dia terbuat dari api sementara Adam a.s. terbuat dari tanah. Dan DIA MERASA bahwa api lebih baik daripada tanah. Dapat kita lihat di sini, sifat iblis yang menggunakan dirinya dan pandangan sendiri sebagai standar relevansi adalah sebuah tindakan absurd dan konyol yang telah membuatnya terusir dari surga.

Lebih lanjut, sikap manusia yang menggunakan pandangan dan intrepretasi nilai secara subjektif dalam menilai hidup, tidak lebih adalah tindakan mengkopi perilaku iblis. Dan saya rasa tidak terlalu vulgar kalau kemudian mengatakan bahwa tindakan menilai dan mengintrepretasikan hidup secara objektif adalah bentuk sikap Iblissentris. Sama bodohnya seperti bertanya pada seorang Zinedine Zidane bagaimana caranya melakukan back-hand smash tingkat dunia. Karena pihak yang ditanya, tidak paham tentak subjek yang ditanyakan, dan pada akhirnya tidak akan mampu meberikan jawaban yang relevan.

Lalau bagaimana hidup dalam relevansi?

Cara terbaik mendapatkan panduan yang relevan tentang cara mertawat motor adalah bertanya pada teknisi ahli atau membaca buku panduan. Dalam sistematika logika yang sama, cara terbaik mendapatkan panduan bagaimkana menjalani hidup adalah dengan bertanya dengan Dia, Sang Pencipta hidup, atau berpedoman pada “buku panduan” yang telah Ia siapkan untuk kita. Sungguh telah disempurnakan Islam sebagai pedoman terbaik dalam menjalani kehidupan kita. Dan sungguh tidak pernah ada ‘buku panduan’ hidup yang lebih relevan dibandingkan Al Qur’an. Mencoba menjalani hidup kita tanpa menggunakan Allah, Al-Qur’an dan Islam sebagai standar adalah tindakan absurd yang tidak lebih adalah sikap mengikuti Iblis.

Maka, hiduplah secara Islam, dan berIslamlah secara relevan!

Bayangkan Asyiknya Jika Negara Kita Masyarakatnya Islami

Suatu malam ahad yang biasa, sunyi sepi sendiri, seperti malam-malam yang lain. Sebuah warung bakmi di pojok Jalan Dipati Ukur Bandung… Great Food, Great Ambience. Namun sayang makan sendiri.. yah seperti event-event makan yang lain…

Di sebelahku beberapa mahasiswi (nampaknya) sedang asyik makan sambil bersenda gurau, dua orang di antara menyelipkan sebatang rokok di antara kedua bibirnya.. Well, not a good sight… but okay nevertheless. tapi satu hal yang benar-benar mengganggu, wanita yang paling dekat denganku memakai pakaian yang bupati (alias BUka PAha TInggi-tinggi). Bahkan saking tingginya, kaos yang dia pakai menutupi hampir sebagian besar celana pendek itu (tolong jangan dibayangkan… Oke-oke.. sudah terlanjur ya.. kalau gt jgn diteruskan!). Jadi gimana gitu,,, dilihat kok menggoda iman.. nggak dilihat kok eman-eman. Butuh will-power dan self discipline yang luar biasa untuk menarik kepala supaya pandang lurus ke depan dan tak tengok kiri kanan.

Eladalah… sampai di kos, nonton KPK di kamarnya Suriph Al Tuban. Ada acara seru, judulnya KPK. Isinya, reka ulang kasus korupsi.. waktu itu pas kasusnya Al-Amin Nasution. Namanya Al-Amin kok malah terlibat kasus korupsi.. eh lelakon…

Jadi sedikit bermimpi.. coba masyarakat muslim Indonesia kehidupannya Islami….

Pagi hari berangkat kampus naik motor, di kanan kiri jalan banyak mahasiswi, berjilbab rapi, rapat dan elegan. Menyandang kitab suci, pulang-pergi mengaji.. (tapi kitab sucinya karangan Purcell (kan g najis, jadinya suci) Dan mengaji Ilmu Kalkulus. Sungguh menyejukkan, nggak ada lagi yang BUPATI dan SEKWILDA.

Trus lewat di depan SD, ada anak kecil keluar dari mobil, cium tangan abi-ummi, dan nggak lupa salam sebelum pergi. Wah indahnya ya. Sampai di Simpang Dago, ngelihat kiri, jalan dah rapi, nggak ada pedagang yang mengotori jalan atau membuat kemacetan.. Yah kan manusia terbaik yang berguna buat sesama manusia, bukan yang menghalangi hajat hidup orang banyak. Di traffic light, semua kendaraan berhenti di belakang garis, nggak ada yang ngelanggar traffic light. Angkot-angkot melintas dengan cepat ketika lampu menyala hijau, cepat, tapi santun.

Nyampai di kampus, kuliah nyaman. Nggak ada pandangan pandangan yang “didelok marake tuman, g didelok eman-eman”. Semuanya berpakaian rapi dan menutupo aurat. ujian nggak ada yang nyontek. Trus tiap org peduli satu sama lain.. wah keren banget…

Sudah sore, saatnya kembali ke kos-kosan. Jalan pelan di sekitaran Dipati Ukur.. di sepanajang jalan banyak pasangan bergandengan tangan menikmati udara sore bandung yang segar. Yang putra rapi, santun dan ramah. Yang wanita anggun dan santun. Di sepanjang jalan banyak pasangan suami istri-muda jalan-jalan sore. Nggak ada lagi perasaan muak melihat pasangan pacaran berlagak layaknya suami istri. Sungguh indah…

Sampai di kos.., menunggu maghrib, tanpa ragu mengambil remote TV dan menyalakannya. Dah nggak ada lagi tayangan berbau porno dan mistis di tv. Semuanya indah, menggugah, dan penuh ilmu. Kutekan tombol remote, pembaca berita muncul di TV, “Pemirsa yang terhormat, kami baru saja mendapat kabar bahwa cadangan bahan makanan, emas, dan dana segar di perbendaharaan pusat negara yang berasal dari zakat  jumlahnya meningkat. Jumlah total total semua cadangan komodity kini telah surplus hingga mencapai 23% cadangan yang dibutuhkan. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah berencana mengirimkan surplus cadangan komoditi ke Palestina yang sedang menghadapi gejolak perang dan Jepang yang baru saja dihantam tsunami terbesar abad ini”

Allahu Akbar Allahu Akbar.., adzan berkumandang di televisi, semua acara berhenti. Melangkah pasti, kuambil air wudhu dan melangkah menuju masjid di belakang kos. Sepanjang jalan kulihat orang-orang menutup semua tokonya, semuanya tanpa kecuali. Bahkan orang-orang non muslim pun menutup tokonya untuk menghormati rekan-rekan mereka yang muslim.

Di masjid, orang berlomba datang lebih dulu, 8 saf terdepan telah dipenuhi orang. Dalam hatiku timbul penyesalan, mengapa aku tidak datang sebelum adzan. Dengan hati penuh sesal, kuambil posisi di shaf ke sembilan, shaf nomor dua dari belakang. Iqamah pun dikumandangkan, dalam sholatku aku menangis, bahagia, terima kasih Yaa Allah, atas hidayah yang Engkau berikan…

Diriku lalu tersadar, hanya imajinasi ternyata… namun hati kecilku yakin, ini bukan sekedar mimpi belaka. mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. mengubah suatu negeri bukanlah pekerjaan mudah. Namun apa salahnya mengusahakan hal yang baik. AKu ingin, menjadi bagian dari mereka yang mengubah…

Allahu Akbar!!!

Surga Itu Bernama Teladan

Aku masih ingat hari pertama kakiku melangkah masuk ke sana.. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang ramai, berdesakan melihat posisi nilai mereka masing-masing di papan pengumuman.. Tidak ada yang istimewa dengan tempat itu.. biasa, layaknya sekolah negeri pada umumnya…

Beberapa hari kemudian, saatnya… daftar ulang.., naik turun tangga teladan ternyata lumayan melelahkan…

namun, begitu melihat kakak-kakak yang menyambutku dengan senyum hangat dan keramahan, lelah di hatiku hilang.. persaan hangat mulai hadir di dalam hatiku… namun sebatas itu.. dalam pandanganku sekolah ini masih sama layaknya lainnya

Hari yang begitu kunanti itu tiba: Hari pertama jadi anak SMA! 😀 hurray hurray

Berawal dari sini, segalanya berubah untuk diriku. Ketika masuk kelas untuk masa orientasi.., aku terkejut, heran, “kenapa coba, di hari pertama MOS, kita diajari untuk menjaga pergaulan dengan lawan jenis… heran…  Perasaan janggal mulai muncul dalam hatiku..

Hari kedua dan hari ketiga.., keadaannya menjadi makin janggal buatku (but i enjoyed it nevertheless 😛 )

selain diajari untuk menjaga pergaulan, kita juga banyak diajari banyak nilai-nilai lain…, namun terlepas dari semua itu… satu hal yang tidak akan pernah aku lupa.. sinar di mata kakak-kakak, (Terima kasih banyak buat Mas Pandu dan Mbak Wahyuni sebagai pembimbing awal, sungguh hanya Allah yang kan mampu membalas apa yang telah kakak-kakak berikan padaku) Di mata mereka aku melihat cahaya, cahaya itu mengandung cinta, namun ia bukan cinta. Ia menyinar kelembutan, namun cahaya itu bukan kelembutan itu sendiri..

Untuk beberapa lama, aku masih fascinated dengan cahaya itu, namun masih terlalu hijau untuk memahami..

Hingga akhirnya aku mengalami satu pekan masa pembelajaran paling indah, so far.. GVT!!!  B-)

Begitu banyak yang kupelajari di sini, nggak bisa kuceritakan semua..

Namun satu hal, selepas sepekan GVT, aku menyadari cahaya apa yang memancar dari mata kakak-kakakku.. it’s called purpose..

Terlalu picik mengatakan bahwa mereka orang-orang fanatik yang berpikir sempit. Menurutku mereka nggak lebih daripada orang-orang yang ingin menjalankan perintah Allah sepenuhnya, dalam setiap bidang kehidupan. Pada detik itu, aku mengagumi mereka.. Mereka punya tujuan untuk hidup mereka, mereka punya pusat perputaran orbit mereka.

Dan bersama dengan Islam yang mereka letakkan di dalam hati-hati mereka, memancar cinta dari tutur lisan halus nan ramah mereka, dalam naungan Allah terasa sayang dalam interaksiku dengan mereka..

Dan pada saat itu, kukatakan pada diriku: KEHIDUPAN SEPERTI INILAH YANG AKU INGINKAN!!!

Maka hari transformasiku berawal, dengan indah pula, melalui SAA…

Di sini, duniaku meluas 10 kali lipat, bersama dalam cinta kami belajar tentang Allah, Rasulullah dan apa itu Islam. Kami belajar bagaimana caranya mengabdi sepenuhnya pada Allah, dalam suka maupun duka, dalam cinta maupun dalam ketiadanyamanan.. Berawal dari sini, kuperbarui syahadatku..

Asyhadu’anla ilahillallah..

    Tiga tahun masaku di sana, ku mengecap manisnya iman, indahnya ukhuwwah, belajar dalam kebersamaan, untuk berubah dan menjadi lebih baik, untuk beramal dan menjdai lebih dekat, untuk teguh dan menjadi lebih terjaga

    Di tempat itu, aku punya teman-teman yang siap mengingatkanku alih-alih membiarkanku dalam ingkar. Kami begitu mencintai satu sama lain, kami tidak rela saudara kami berada dalam keingkaran. Di tempat ini aku punya kakak-kakak yang siap membimbing kami layaknya kakak kandung sendiri, begitu hangat, begitu ramah, begitu penuh cinta. Di sini pula aku mencoba belajar menjadi kakak, belajar menyayangi, belajar membimbing, belajar mengarahkan.

    Bagiku, tempat itu terasa surga, di mana kita bisa merasa begitu dekat dengan Allah ketika berada di bawah atapnya. Tertata tuk selalu mengingatNya dalam kebersamaan di jalnNya, bersaudara dengan orang-orang yang rela menggadaikan hidup mereka untuk ditukar dengan surgaNya. Belajar dari orang-orang yang tak merasa memiliki hidup mereka, lebih dari itu, mereka merasa dimiliki oleh Allah dalam hidup mereka.

    Di mana lagi aku bisa berusaha lebih terjaga dalam hidupku selain di sana?

    Di mana lagi aku bisa menemukan orang-orang yang menghormati Allah? Bahkan kartu kuning pun melayang keluar dari saku wasit ketika seorang pemain mengenakan pakaian yang mempertontonkan lututnya di hadapan khalayak..

    Di mana lagi aku bisa menemukan orang-orang yang begitu teguh menjalankan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran? Bahkan pertandingan sepak bola pun dihentikan agar kami bisa mendengar adzan…

    Sungguh Ya Allah, tiga tahun masaku di SMA itu, kusyukuri sepenuhnya untuk 30, 300, 3000, bahkan 300000 tahun lagi, mungkin lebih, ketika diriku bersimpuh di hadapanMu..

    Sungguh telah kurasakan tempat terindah di bumi, lebih manis daripada madu manapun, lebih sejuk daripada embun di manapun, lebih hangat daripada mentari yang menerpa kulit.. jika ada surga di dunia, di sanalah tempatnya, darut tarbiyah, darul ‘ulum, Teladan Darussalam…..

    Ya Allah, Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu. bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan.

    Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam.

    Ya Rabbi bimbinglah kami, lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu. Hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalan Mu. Engkaulah pelindung dan pembela

    ALLAHU AKBAR!!


    Da’wah Kanthi Tresna: Sebuah Otokritik

    Hestutomo Restu Kuncoro

    An article dedicated to Allah. In honor of the best mentor a very good friend of mine, Arif Dharmawan.

    Pemikiran atau ide tentang hal ini muncul kira-kira 3 tahun yang lalu. Awal kemunculan pemikiran ini adalah sebuah pesan singkat yang dikirim oleh seorang adik kelas ke ponsel saya. Isi pesan ini kurang lebih adalah seperti ini, “Mas, kenapa sih mbak-mbak rohis (baca: aktivis da’wah) itu bisa bener-bener ramah sama temenku yang anak rohis juga. Tapi entah kenapa nggak bisa hangat kalau sama orang yang notabene bukan anak rohis. Kalau misalnya aku lg jalan sama akhwat rohis, pasti disapa dengan hangat. Tapi kalau misalnya aku jalannya sama temenku yang bukan anak rohis, kok rasanya dicuekin” Berawal dari kejadian itu, sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran saya waktu itu, Kenapa?

    Pencarian jawaban atas pertanyaan satu kata itu membawa saya pada banyak alternatif analisis. Salah satu jawaban yang masuk diberikan oleh seorang AD (aktivis da’wah) di kampus tempat saya kuliah saat ini. Jawabannya: “Mungkin, ada kecenderungan di antara para AD untuk tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang notabene bukan AD sebaik mereka berbaur dengan sesama mereka. Begitu mendapatkan jawaban ini, pikiran saya kembali ke sebuah permasalahan klasik di pergerakan da’wah SMA: kenapa para AD akhwat lebih sering menghabiskan waktu istirahat sekedar bersama dengan mereka yang notabene juga AD ?

    Bukan tindakan bijaksana terburu-buru mengambil kesimpulan. Namun saya rasa cukup adil ketika saya mengambil kesimpulan bahwa MEMANG ada tembok imajiner yang “membatasi” kehidupan para AD dan mereka yang notabene belum aktifr dalam pergerakan da’wah, terlepas dari perbedaan ketinggian dan ketebalan tembok itu antara satu medan da’wah dan medan da’wah lain. Namun saya tidak ingin menyatakan bahwa eksistensi tembok ini adalah sebuah kesalahan atau sesuatu yang perlu dihilangkan. Karena, eksistensi sebuah tembok imajiner dalam interaksi sosial maupun individu adalah sebuah keniscayaan yang wajar adanya. Sebagus apapun kita berbaur dengan manusia lain, selalu ada hal yang membuat kita tidak bisa menghabiskan seluruh kehidupan kita bersama orang lain, bahkan bersama pasangan kita sekalipun. Dalam kehidupan pribadi tembok itu kita kenal sebagai “hal-hal privasi” Dalam kehidupan sosial, tembok itu punya banyak jenis dan rupa. Itu semua bukan masalah, selama ketinggian dan ketebalan tembok itu masih ideal dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu kebutuhan untuk berinteraksi.

    Tembok itu menjadi masalah ketika kondisi tembok itu, entah karena atribut ketinggian atau ketebalan, menghalangi terbentuknya kondisi interaksi sosial maupun individu yang ideal. Banyak hal yang mampu menjadi alasan ketidak idealan tembok imajiner sosial itu. Dalam kasus yang sedang kita bicarakan (Aktivis da’wah dan orang-orang yang belum aktif dalam da’wah), banyak hal yang mungkin menyebabkan terjadinya tembok itu, di antaranya mungkin perasaan eksklusif yang tidak disadari hadir dalam proses hijrah, ketiadaan keinginan untuk memahami pemikiran dan perasaan orang lain, tidak adanya keterbukaan, dan hal-hal lain.

    Bagaimanapun juga, terlepas dari kenapa tembok itu bisa hadir, saya mencoba mengawang-awang kondisi ideal interaksi sosial dalam pergerakan da’wah. Ketika kondisi tembok itu tidak sesuai dengan persyaratan ideal, saya melihat penyebab utamanya bukanlah teknik interaksi sosial antara AD dan non-AD. Saya meyakini bahwa ketika ketidak-idealan interaksi sosial terjadi, hal itu disebabkan oleh seuatu yang sifatnya lebih mengakar, lebih mendalam dan lebih mengontrol.

    Apa yang saya maksud dengan sesuatu yang lebih mengakar itu adalah motif. Jadi, ketidak idealan itu terjadi karena adanya disorientasi motif yang hadir tanpa disadari. Disorientasi motif itu ada kemungkinan hadir dalam proses asimilasi AD ke dalam wadah atau badan. Saya pernah mendapati kasus seorang individu yang begitu yakin bahwa niatan yang ia bawa adalah niatan yang lurus, namun dalam diskusi kami kami menyadari bahwa ada sedikit disorientasi motif dalam sepak terjangnya: melanggengkan hegemoni badan atau wadah.

    Keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah badan atau wadah sarana da’wah dapat dengan mudah di-misinterpretasikan. Bukan berarti bahwa keinginan untuk melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah sebagai sesuatu yang salah, sama sekali bukan. Motif itu akan dapat tetap terkategori sebagai “niatan yang lurus” selama di balik niatan itu tidak lebih hanyalah keinginan agar bendera da’wah dapat terus berkibar, jika begitu keadaannya maka tidak masalah. Hanya saja, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, niatan ini punya kecenderungan untuk di-salah artikan dengan sangat-sangat mudah. Motif melanggengkan hegemoni sebuah lembaga da’wah dapat dengan sangat mudah menggeser paradigma orientasi da’wah para aktivis da’wah yang ada di dalamnya. Skenario paling buruk dari pergeseran paradigma ini adalah kecenderungan para aktivis da’wah untuk fokus pada hasil alih-alih pada proses.

    Terkadang, tanpa disadari sepenuhnya oleh para AD, usaha da’wah yang mereka lakukan terlalu memaksakan untuk mengejar “target” lembaga da’wah tertentu. Hasilnya, terkadang niatan para AD cenderung manipulatif dan tidak menyerang akarnya. Apa yang saya maksud dengan manipulatif adalah proses berpikir “saya pingin ngeliat orang ini jadi kaya gini”, tanpa keinginan secara penuh untuk memahami pemikiran dan perasaan orang tersebut. Efeknya dalam tindakan, sikap ramah parsial (seperti telah dibahas sebelumnya), bersikap ramah (atau perbuatan lain yang juga menarik simpati) dengan motif agar orang tersebut simpati kepada para AD dan mau menerima pemikiran yang dibawa oleh AD. Para AD sering tidak menyadari ini sebagai suatu misplaced-action karena karakter tindakan seperti ini yang nampak begitu smooth dan non-manipulatif di luarnya. Well, tindakan seperti ini memang nampak smooth dan clean di luarnya, tapi sangat disayangkan motif sikap ramah itu sendiri pada awalnya manipulatif: agar orang yang kita perlakukan dengan ramah mau menerima pemikiran yang kita bawa.

    Pertanyaan yang kemudian muncul adalah lalu bagaimana seharusnya? Dengan rendah hati dan menyadari semua kealpaan saya sebagai manusia, saya ingin mencoba mengawang-awang sistematika yang ideal harusnya seperti apa.

    Pertama dari tujuan, saya rasa semua AD sudah sangat paham tentang hadits pertama dalam kumpulan 40-an hadits yang dikompilasi oleh Imam Nawawi: tujuan  hanyalah Allah. Berawal dari niatan yang begitu mulia ini, AD harus memahami bahwa parameter keberhasilan AD sebagai hamba Allah dalam berda’wah bukanlah capaian fisik sistem da’wah. Lebih jauh harus dipahami bahwa tanggung jawab AD dalam berda’wah adalah mengajak BUKAN MENGUBAH. Tujuan akhirnya memang adalah perubahan individu yang berujung pada hijrahnya sebuah peradaban. Namun sangat tidak bijaksana jika dalam usaha mengejar hasil, AD mengabaikan mengabaikan sebuah prinsip penting.

    Prinsip penting yang saya maksud adalah keinginan untuk memberikan yang terbaik pada objek da’wah AD (yang sebenarnya bukan objek sama sekali). Pelanggaran prinsip ini sering berujung pada tindakan manipulatif di mana AD terlalu fokus pada capaian akhir fisik (dalam usaha menghadirkan kekuatan dalam lembaga da’wah sehingga lembaga da’wah itu dapat memepertahankan hegemoninya), tanpa memperhatikan secara tulus pribadi objek da’wah yang bersangkutan. Contoh yang kongkret sudah saya bahas sebelumnya: tindakan simpati manipulatif dalam usaha mencapai tujuan akhir itu.

    Seharusnya menurut saya, prinsip ini dijalankan secara sinergis dengan tujuan da’wah dan tanggung jawab AD dalam da’wah itu sendiri. Inilah prinsip yang saya sebut dalam judul sebagai Da’wah Kanthi Tresna, sebuah kalimat bahasa jawa yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maknanya Da’wah Dengan Cinta. Aplikasi prinsip ini adalah sebuah kesadaran sepenuhnya akan hakikat kita sebagai hamba Allah dan kewajiban kita untuk mencintai sesama muslim maupun hamba Allah, karena Allah. Lebih lanjut, ketika kita mampu mencintai orang lain karena Allah, sudah menjadi hal yang lumrah ketika kita mengharapkan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai. Dan hal yang terbaik untuk semua hamba Allah, tanpa perlu disangsikan, tentu saja kedekatan dengan Allah. Dalam usaha memeberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai, kita akan mengajak mereka untuk dekat dengan Allah, tentu saja dengan berda’wah. Jadi motif da’wah kita seharusnya tidak lebih daripada sekedar bentuk eksppresi cinta kita (yang hadir karena Allah) kepada saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama hamba Allah, sebagai sinergi motif utama kita mengharap ridhoNya.

    Jika proses berpikir AD dilakukan dengan cara seperti ini, insyaAllah tidak akan ada lagi pemikiran maupun tindakan manipulatif dalam mencapai capaian fisik sebuah sistem da’wah. Simpati yang hadir dalam diri objek da’wah kepada AD hadir sebagai bentuk tanggapan otomatis stimulus cinta yang hadir dari dalam diri AD kepada orang-orang yang dida’wahi. Dalam aplikasinya, ketika AD bersikap ramah dan hangat kepada objek da’wah, tindakan itu didasari secara penuh dan secara tulus sebagai ekspresi cinta. Kehadiran cinta dalam da’wah juga akan menghadirkan keinginan untuk secara tulus mendengarkan dan memahami pemikiran serta perasaan objek da’wah oleh AD.

    Lalu apakah salah menetapkan capaian fisik dalam da’wah ? Tidak, sama sekali tidak, selama capaian fisik itu dibuat tidak lebih daripada sekedar sistem untuk mengevaluasi metode. Namun  satu hal yang perlu diperhatikan, jangan sampai capaian fisik itu menjadi acuan utama tindakan da’wah para AD sehingga melupakan urgensi hadirnya motif cinta dalam pergerakan da’wah mereka.

    Wahai saudaraku, mari belajar mencintai saudara-saudara kita secara tulus. Ketika berda’wah, hadirkan motif karena kita menginginkan yang terbaik untuk saudara-saudara kita… Kedekatan dengan Allah…

    Wallahu’alam bishowab

    Islam Agama Terbaik

    Assalamu’alaikum

    Kali ini BI (Bahrul ilmi-red) bakal bagi-bagi cerita dari Pak Nanung Danar Dono, seorang Pengajar di SMA 1 yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif LP-POM MUI. Ceritanya tentang tata cara penyembelihan kurban menurut Agama Islam.

    DITOLAK

    Di negara barat, metode penyembelihan secara Syari’ah Islam ditolak. Alasannya adalah penyembelihan secara Islam sangat menyiksa ternak. Dan mereka menyatakan bahwa hal ini adalah sebuah bukti bahwa orang Islam itu Kejam dan bengis.

    Menurut mereka, untuk mengkonsumsi daging ternak, penyembelihan harus dilakukan secara baik, tidak dengan menyiksa ternak. Cara yang terbaik adalah dengan memingsankan ternak terlebih dahulu dengan CBP (Captive Bolt Pistol) baru kemudian disembelih. Menurut mereka, dengan cara seperti ini ternak tidak tersiksa seperti jika mereka (ternaknya) disembelih dengan cara Islam. Karena ternak tidak sadarkan diri saat disembelih.

    Argumen seperti itu tentu saja sangat bisa diterima oleh akal sehat. Walhasil, beberapa dari orang Islam membenarkan argumen itu, dan otomatis menganggap syariah Islam tidak manusiawi. Waduh !, Gimana nich ?!.

    TITIK TERANG

    Di saat-saat kritis dan membuat Muslimin tergoncang Aqidahnya, Allah mengirimkan jawaban kepada umat manusia melalui dua orang Ahli Peternakan dari Hannover University yaitu Prof. Dr. Schulz & Dr. Hizam, rekannya.

    The Show Begins

    Mereka berdua melakukan penelitian untuk melukan komparasi antara 2 metode penyembelihan, Western Method, dan Islamic Method. Beberapa sapi yang sudah cukup usianya masing-masing dipasangi ECG (electrocardiograph) di jantung dan EEG (Electro-Enchepalograph) di Otak. ECG berguna untuk memantau aktifitas jantung dan EEG untuk mendeteksi rasa sakit yang dirasakan oleh sapi-sapi tersebut.

    Setelah masa adaptasi terhadap pemasangan chip tersebut rampung, penelitian dilanjutkan. Setengah dari sapi-sapi tersebut disembelih dengan cara barat, yaitu dipingsankan dulu dengan ditembakmenggunakan CBP. Sedangakn sisanya disembelih dengan cara Islam. Yaitu Menggunakan pisau yang sangat tajam, dan memotong tiga saluran di leher, yaitu saluran pernafasan, makanan, dan pembuluh darah.

    Allahu AKBAR !!!

    Pada penyembelihan secara Islam, 3 detik pertama setelah sapi disembelih EEG tidak menunjukkan kenaikan grafik. Subhanallah!! Pada 3 detik setelahnya, sapi malah mengalampi deep sleep (tidur nyenyak) hingga benar-benar kehilangan kesadaran. Lalu 6 detik setelahnya ECG menunjukkan aktifitas luar biasa dari jantung yang berusaha memompa semua darah keluar dari dalam tubuh. Ini merupakan sebuah kerja refeleks koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang. Dalam Islam, tulang pada bagian leher (tulang belakang) tidak boleh diputus sebelum sapi benar-benar mati. Dan ternyata terbukti dengan tidak diputusnya tulang belakang, jantung menerima impuls dari tulang belakang untuk melakukan gerak refleks memompa darah keluar. Sehingga saat sapi dalam keadaan benar-benar mati, dagingnya terbebas secara maksimal dari darah. Dan daging yang darahnya sudah terpompa keluar merupakan daging yang sehat untuk dikonsumsi dan awet. Dan kematiannya pun tanpa sakit sama sekali ALLAHU AKBAR !!

    Tapi kan sapi saat disembelih kejang-kejang…., Berarti sakit dong..! Ternyata, pisau yang memotong leher, sama sekali tidak menyentuh syaraf yang mampu menimbulkan rasa sakit. Kejang-kejang yang terjadi pada sapi saat disembelih hanyalah gerak refleks yang terjadi saat semua darah terpompa keluar. Jadi memang g ada rasa sakit!

    WESTERN METHOD

    Pada penyembelihan ala barat, sapi dipingsankan dulu dengan ditembak menggunakan CBP pada bagian kepala. Ternyata, EEG menunjukkan bahwa proses penembakan untuk memingsankan ini menyebabakan rasa sakit yang luar biasa pada sapi. ECG juga menunjukkan bahwa rasa sakit yang luar biasa ini menyebabkan turunnya aktifitas jantung sehingga saat dibunuh darah yang keluar hanya sedikit, dan dagingnya menjadi daging yang tidak sehat untuk dikonsumsi.

    Penyakit Sapi Gila yang pernah menjadi isu yang cukup panas untuk dibicarakan di Indonesia merupakan sebuah penyakit di otak sapi. Penyakit ini bisa mematikan ke manusia bila manusia mengkonsumsi jaringan otak sapi yang bersangkutan ( Sapi Gila)

    Dan tidak beresiko apabila daging yang dikonsumsi tidak mengandung jaringan otak sapi tersebut. Ternyata, penyembelihan dengan didahului penembakan dengan CBP menyebabkan rusaknya selaput otak. Rusaknya selaput otak menyebabkan jaringan otak sapi menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sehingga daging ini bila dimakan beresiko terhadap kesehatan insan yang memakannya

    Penyembelihan secara Islami, menunjukkan bahwa sangat-sangat kecil resiko tertular penyakit sapi gila dengan memakan daging sapi yang disembelih secara Islami. Sehingga jelaslah bahwa penyembelihan secara Islami-lah yang paling baik buat kita-kita. Metode ini berasal dari Allah, dan Allah tahu yang terbaik buat kita.

    “Mungkin engkau membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan engkau menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangan manusia tidak” (AL Baqarah 216)

    Jadi, Allah tahu, kita tidak tahu, makanya, jangan sok tahu.

    Gimana ? Udah jelas Khan klo Islam memberikan yang terbaik. Kalo ada yang merasa bahwa ada bagian dari Islam yang kurang baik, maka itu hanyalah karena kurang faham. Cobalah bertanya pada orang yang lebih pinter, Insya Allah ada jalan. (Hrk)