Monthly Archives: July 2009

Pandai Berbohong?

Pernahkah anda berbohong? Bagaimana rasanya ketika berbohong? Bagaimana rasanya ketika kebohongan kita diketahui?

Kebanyakan manusia pernah berbohong. Baik itu white lies (berbohong dengan niat baik-red) maupun kebohongan-kebohongan biasa. Bahkan, beberapa dari kita hidup dalam kebohongan. Oleh sebab itu, berbohong telah menjadi semacam kemampuan, jika tidak bisa disebut seni, yang selalu berkembang dari masa ke masa. Kebohongan telah berubah dari sekedar perisai diri, menjadi sebuah sistem yang terkoordinasi dengan baik.

Walau begitu, kebohongan selalu memiliki sisi buruknya tersendiri. Dan bukan hanya dari segi moral (yang tidak akan dibahas dalam tulisan ini), namun dalam hal berbohong itu sendiri. Yang paling sering kita temui adalah komplikasi kebohongan pendukung. Jika kita berbohong akan suatu hal, kita perlu membuat kebohongan-kebohongan lain untuk mendukung kebohongan yang pertama. Misalnya kita bilang kita punya kolam renang di rumah, padahal sebenarnya tidak, tentu kita harus berbohong untuk menghalangi teman-teman kita berkunjung.

Namun, kelemahan utama seorang pembohong adalah tubuhnya sendiri. Kita bisa berbohong dengan kata-kata, namun bahasa tubuh kita memiliki pengaturan otomatis untuk berkata jujur. Yang paling umum adalah peningkatan detak jantung dan perbesaran pupil mata. Selain itu, ada juga kedipan mata, pergerakan bola mata, pergerakan bibir, dan lain lain. Tentu kita sendiri pernah menggunakan tanda-tanda ini untuk mengetahui kebohongan seseorang.

Walaupun sebagian bahasa tubuh ini adalah gerakan reflek yang tidak bisa kita kendalikan, sebagian yang lain bisa dilatih untuk berbohong. Berikut adalah beberapa tips agar kebohongan kita nampak meyakinkan.

1.Jika kita akan berbohong dengan suatu cerita, pastikan dalam cerita itu sama sekali tidak ada kontradiksi. Selain itu, jangan sampai di dalam cerita itu masih ada bagian-bagian yang masih terbuka untuk pertanyaan.

2.Jika kita berbohong untuk menjawab sebuah pertanyaan dengan kebohongan yang telah dipersiapkan sebelumnya, jangan langsung menjawab begitu pertanyaan selesai diajukan. Putuskan kontak mata begitu pertanyaan selesasi diajukan. Gerakkan bola mata melirik ke samping atau ke atas (tapi jangan ke bawah!) tunggu dua detik, baru jawab pertanyaan tersebut. Hal ini akan memberikan kesan anda benar-benar mencoba mengingat-ingat faktanya.

3.Jangan bercerita dengan terus menerus menjaga kontak mata. Beberapa kali putuskan kontak mata seolah-olah anda mengingat-ingat.

4.Ketika bercerita, gunakan detil-detil yang tidak relevan dengan isi cerita. Misal, anda berbohong bahwa dua hari yang lalu anda berada di stasiun kereta, ceritakan juga beberapa detail tidak penting tentang hal-hal sekitar seperti cuaca, ada bau apa di udara, dsb. Selain itu, gunakan juga pembetulan instan, seperti “waktu itu jam 10.30….nggak dink,,kayanya udah lewat jam 11..”

5.Gunakan tangan anda untuk mengilustrasikan cerita anda, jangan menggunakan tangan anda untuk menyentuh bagian tubuh anda, seperti rambut, telinga, hidung, dsb. Jangan pula menggunakan tangan anda untuk menyentuh pakaian atau perhiasan yang anda pakai.

6.Ketika memberikan pernyataan positif seperti “..Saya menyukai hal itu”, angkat alis mata anda. Tambahkan anggukan, hati-hati jangan sampai menggeleng.

7.Ketika memberikan pernyataan negatif seperti “..Saya tidak keberatan”, jangan sampai anda mengangkat alis mata. Tambahkan gelengan kepala, hati-hati jangan sampai mengangguk.

8.Untuk tangan, jangan letakkan tangan anda pada posisi defensif seperti bersedekap atau mengahadapkan telapak tangan ke arah lawan bicara. Gunakan tangan sebagai ilustrator, atau letakkan di samping depan badan anda dengan telapak tangan menghadap ke atas, atau ke arah tubuh anda.

9.Jaga ekspresi wajah sesuai dengan cerita kita. Jika sulit, pastikan saja ujung-ujung bibir tidak tertarik ke samping. Jaga juga agar bibir tidak membentuk mangkok terbalik ketika cerita.

10.Hindari menggerakkan sebelah bahu. Jika kita ingin menekankan maksud “saya tidak tahu”, angkat kedua bahu, jangan salah satunya.

11.Gunakan kacamata dengan lensa berwarna, tapi jangan terlalu gelap hingga menimbulkan kesan misterius. Hal ini penting untuk menyamarkan gerakan alis dan perubahan ukuran pupil mata.

12.Jangan berkedip terlalu sering.

Teknik di atas hanyalah beberapa dari banyak teknik yang dapat digunakan untuk berbohong. Masih banyak teknik-teknik lain untuk membuat kebohongan kita nampak meyakinkan. Namun, sebagian bahasa tubuh kita adalah gerakan reflek yang tidak bisa kita latih. Oleh karena itu, sebaiknya hindari berbohong sebisa mungkin. Jika anda terpaksa harus berbohong, berbohonglah dengan lihai. (hrk)

Advertisements