Monthly Archives: September 2010

I would know that she’s the one if…

we never seem to run out of things to talk about..
every time i see her smiles, i smile too, for no reason but her smile.
every time i see her, i forget about all my problems.
every time i remember her face, i feel happy
every time i do something wrong she would bravely stand up to me
every time i lose hope, she brings it back
every time the flame within me go out, she light it back
every time i see a beautiful face, i remember her
every time i feel depressed, she raise me up
when she’s with me, there’s nothing else in the world i want
i want to be where she is more than i want to be anywhere else
every time i’m planning my future, she’s part of it
i’m happy everytime she is, and even happier if her happiness is due to me
she’s the first person i remember when i wake up, and the last person i think about when i go to sleep
every other couples reminds me of her
i want my children to have her as mother
i want my parents to have her as daughter-in-law
i want my siblings to have her as sister-in-law
i give her anything i could, and work harder to give her more
i can always trust my heart on her hands, and within her heart
when i’m with her, addition of one person is too much
whatever happened, i know it won’t be so bad coz i have her with me
i know she will always be loved with at least one person
i want the title of “Her Husband” more than i want the title of “President of Indonesian Republic”

and so many more if…

Bahasa Cinta

Setiap insan, memiliki cinta jauh di dalam diri kita. Itulah yang membuat dunia terasa indah dan penuh tawa. Karena cinta menghiasi hati yang dilanda sepi, dan mencerahkannya dalam bahagia.

Namun sungguh kan menyesakkan dada, ketika cinta yang selalu ceriakan kita, perlahan menghilang dan tak lagi terasa. Membuat kita bertanya-tanya, ke mana ia terbang? Hingga akhirnya bimbang datang menyerang, melesakkan ribuan keraguan tentang hadir cinta, masihkah adakah cinta di hati ini? masih bisakah aku mencintainya?

Dalam titik terjauh ketiada-terasaan cinta, sering kita berpikir tuk akhiri semua. Meruntuhkan bangunan kasih yang telah lama kita bina. Menghancurkan simpul ikatan cinta yang pada fitrahnya harus ada. Sekedar karena alasan, “Aku tak lagi cinta” atau “Kami tak lagi bisa bersama”.

Duhai kawan, cinta bukan sekedar perasaan pasif yang bisa datang dan pergi tanpa kehendak kita. Cinta mampu hadir dan hangatkan kita ketika kita mengharapkannya. Cinta mampu tegar dan bertahan di bawah terpaan lekang dunia, hanya jika kita menjaganya. Karena kawan, cinta adalah kata kerja. “Aku mencintaimu” bukanlah sekedar ungkapan perasaan maya. “Aku mencintaimu” adalah pernyataan misi yang nyata. Kata “cinta” merupakan komitmen kita untuk menghargai, memberi perhatian, menerima kekurangan, mensyukuri kelebihan, dan memahami sepenuhnya.

Sering sekali, cinta pergi bukan karena ia tak lagi mampu menautkan dua manusia. Ia selalu mampu, selalu bisa, ketika dua manusia itu menginginkan hadir cinta. Tapi sering, cinta divonis telah pergi meninggalkan mereka, justru ketika cinta memberikan bagian terindah dari perjuangannya, ujian cinta. Ujian cinta adalah batas dua kehidupan, kehidupan dengan cinta di awal ujian, dan kehidupan yang lebih penuh cinta di akhir ujian. Namun sungguh, hidup yang lebih penuh cinta itu hanya akan kita temui, setelah melewati ujian cinta. Ujian cinta tidak akan menguji cinta, cinta tak perlu diuji lagi. Ujian cinta menguji sang Empunya cinta. Masih inginkan ia mencintai? Masih inginkah ia dicintai? Seberapa jauh ia rela melangkah untuk cintanya?

Karenanya, percaya akan cinta adalah keniscayaan. Namun hanya jika, cinta kita dapat kita komunikasikan dalam bahasa yang dimengerti oleh dirinya, orang yang di hatinya kita semaikan cinta kita. Karena sering, cinta yang sebenarnya ada dan bersemayam di dalam hati, disalahartikan sebagai ketiadaan, karena dua hati bicara dalam bahasa cinta yang berbeda.

Sungguh kawan, jika kita mampu bicara dalam bahasa cinta yang dimengerti olehnya, cinta di dalam hati kita takkan terbuang percuma. Karena bahasa menghubungkan segalanya di antara dua manusia, termasuk hati yang penuh cinta. Dan disebabkan oleh cinta, bahasa tak lagi jadi figuran hari, namun berubah menjadi sebuah simpul ikatan hati. Karena bahasa hari, telah berubah, menjadi bahasa cinta.

Roman Yang Terpotong

“aku punya aturan sederhana. Aku takkan mencarimu, namun jika dirimu membutuhkanku, datanglah”, jawabnya singkat.

“entah mengapa terasa aneh. Akankah itu membuatmu bahagia?”, jawabku ragu.

“Jika kau bilang bahwa dirimu akan baik-baik saja setelah ini, aku akan berhenti meratap”, katanya kemudian.

“Jika engkau berjanji akan baik-baik saja setelah ini, maka aku akan baik-baik saja”, jawabku.

“Jika itu akan membuatmu baik-baik saja, maka akan kulakukan”

“Aku akan baik-baik saja, jika aku tahu dirimu baik-baik saja. Be good for me, okay? Jadi ini resolusi kisahnya?”, tanyaku kemudian.

“Iya. Au Revoir”, jawabnya singkat.

“Semoga ada sekuelnya, martil yang bisa menghancurkan tembok kaca ini, dirimu yang membawanya. Hasta La Vista”, kalimatku mengakhiri pagi itu.

Kisah ini berakhir prematur, entah untuk disambung lagi nanti, atau tidak. Jika dia akhirnya membawa martil itu dan pergi menjauh, untuk seterusnya, maka kisah ini hanya akan sampai di sini, dan setelahnya hanya akan ada daftar pustaka, tanpa epilog. Namun jika dia akhirnya membawakan martil itu, aq yakin akan ada banyak kisah indah yang mengisi halaman-halaman setelahnya.