Posted by: tomtomaneh on: December 31, 2008
Well, sekrang mungkin memang bukan waktu yang berdekatan dengan Isra Mi’raj, tapi sebuah pikiran hinggap d otak saya kemarin, dan membuat saya ingin menulis sesuatu tentang Isra’ Mi’raj. Tapi maaf, bukan dalam kaitannya dengan fiqh aqidah, tapi sesuatu yang lain.
Seperti yang kita semua telah ketahui, dalam semalam, Rasulullah SAW melesat dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha d Al-Quds, kemudian masaih melesat lagi hingga melewati tujuh lapisan langit, hingga akhirnya ke Arsy dan bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah langsung mengenai sholat. Dan yang luar biasanya, semuanya menghabiskan waktu hanya semalam. Dan karena mempercayai hal inilah, Abu Bakar r.a. mendapat julukan Asshidiq.
Kita di sini punya dua fenomena. 1. Rasulullah pergi dari Mekah ke Al-Quds dalam waktu singkat. 2. Rasulullah melesat bersama Jibril hingga melewati langit ke tujuh, kemudian ke Arsy untuk bertemu Allah.
Untuk fenomena pertama, saya rasa itu bukan sesuatu yang perlu penjelasan lebih lanjut. Karena, saat ini, manusia biasa pun bisa melesat dari Mekkah ke Al Quds hanya dalam beberapa jam. Dan jika manusia bisa, mengapa Allah tidak bisa melesatkan RasulNya?
Yang menarik adalah fenomena yang kedua. Sebelum kita membahas lebih jauh, saya ingin membuat asumsi bahwa ketika Rasulullah SAW bepergian dengan malaikat Jibril, beliau bepergian dalam kecepatan cahaya. Saya berasumsi seperti ini karena malaikat terbuat dari cahaya, dan karena itu adalah cara paling mudah untuk melaju menembus tujuh langit hanya dalam waktu satu malam.
Pada keadaan biasa, bergerak dengan kecepatan cahaya (atau dengan kecepatan c) bukanlah sebuah pilihan. Ada beberapa alasan
1. Ketika sebuah benda mengalami percepatan, benda itu akan mengalami gaya yang besarnya m x a (Hukum Pertama Newton). Tentu kita pernah mengalaminya ketika berada di atas mobil yang diakselerasi atau mengerem mendadak. Gaya ini kadang-kadang bisa jadi sangat besar, saya sendiri pernah muntah gara-gara menaiki mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak sehingga punggung saya membentur jok mobil dengan momentum yang lumayan besar. Nah gaya maksimum yang mampu diterima oleh tubuh dan masih akan membuatnya tetap utuh kurang lebih sebesar 3G (tiga kali gravitasi bumi). Percepatan yang diperoleh agar gaya maksimum yang diterima tubuh tidak lebih dari 3G butuh 5 jt detik atau 2,5 bulan untuk mampu mencapai kecepatan cahaya. Dan ini yang membuatnya menjadi halangan, perjalanan Rasulullah hanya semalam.
2. Semakin cepat sebuah benda bergerak, masanya bertambah. dalam hitungan matematis, ketika benda bergerak dengan kecepatan c, masanya akan menjadi tidak terhingga, dan karena hal inilah hanya benda-benda tak bermasa, seperti cahaya, yang mampu bergerak hingga kecepatan c.
Dua halangan ini membuat saya memikirkan dua alternatif cara yang mungkin, d sini saya katakan mungkin karena tidak ada cara yang dapat saya lakukan untuk benar-benar mengetahui apa yang terjadi, jadi yang mungkin terjadi adalah..
1. Dari Masjidil Aqsha hingga menembus tujuh langit, Rasulullah tidak bepergian bersama tubuhnya, melainkan hanya dengan ruhnya. Jika kita berasumsi bahwa ruh tidak memilliki masa fisik, maka dua masalah kita yang ada di awal akan terpecahkan. Karena ruh tidak memiliki masa, ia tidak akan rusak bahkan ketika harus dipercepat dengan kecepatan 1000 G sekali pun. Selain itu, massa yang nihil juga membuatnya mampu mencapai kecepatan cahaya.
2. Di Masjidil Aqsha, sebelum mengalami perjalanan, Rasulullah diurai materi tubuhnya hingga menjadi potongan kuark-kuark. Potongan kuark masanya sangat kecil, hingga possible untuk dipercepat hingga kecepatan cahaya tanpa mengalami kerusakan. Kemudian potongan-potongan itu disusun kembali hingga membentuk materi fisik. (ide ini mengingatkan saya pada film lorong waktu yang dibintangi Dedy Mizwar) Memang alternatif pilihan ini membutuhkan energi yang sangat besar, jika diinterpretasikan dengan suhu, maka untuk bisa mengurai satu individu manusia hingga tingkat kuark, manusia perlu dipanaskan hingga 1 jt kali suhu inti matahari. Dan inilah yang membuat teknologi yang melibatkan pemindahan manusia pada kecepatan cahaya tidak mampu direalisasikan di bumi.
Ada satu alternatif lagi diluar dua pilihan itu, yaitu Allah, dengan kuasanya, mengakselerasi Rasulullah secara utuh tanpa menimbulkan kerusakan hingga mampu menghadapNya. Tapi alternatif ini tentu saja akan membuat kita berhenti sampai di sini.
Yang jelas, pilihan mana pun yang benar, telah menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah atas langit dan bumi. Allahu akbar..
Wallahu’alam bishowab