Posted by: tomtomaneh on: December 12, 2008
“Mas, kalau memang Mas menemukan sesorang yang lebih baik daripada Marla, Adik bisa ngerti Mas”, marla berkata-dengan mata berkaca-kaca.
Aku benar-benar kaget mendengar kata-katanya. Aku sama sekali tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.
“Mas, dua tahun yang sudah kita lewati bersama sudah mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa untuk hidup Adik. Kehadiran Mas Ryan dalamĀ kehidupan Adik, Adik rasakan begitu indah dan membuat setiap detik hidup Adik terasa bermakna”, suaranya mulai sesengukan, namun ia masih berusaha mengendalikan emosinya.
Aku masih terdiam, kupalingkan mataku dari matanya. Entah mengapa, aku bisa merasakan rasa perih yang terlihat di matanya setiap kali aku menatapnya. Mata yang selalu dipenuhi binar bahagia itu kini berbalut air mata kesedihan. Selama ini aku selalu berusaha agar matanya tidak dipenuhi apapun selain kebahagiaan dan keceriaan. Ketika akhirnya kesedihan harus hadir di situ, aku sama sekali tidak menyangka bahwa dirikulah yang akan menjadi penyebabnya.
“Tapi…”, Marla melanjutkan kalimatnya. “Marla faham kalau seorang Mas Ryan berhak untuk mendapatkan yang lebih baik.
“Dik, kenapa Adik berkata seperti itu?”, aku bertanya, mengharap jawaban untuk mengobati rasa bingung diriku.
“Mas tentu tahu kalau Adik punya kebiasaan membaca inbox ponsel Mas Ryan. Di stasiun waktu itu, Adik melakukannya Mas, dan di inbox Mas Ryan Adik menemukan sms-sms dari seseorang yang bernama Anita”, Marla menjawab. Air mata sudah mulai mengalir ke sudut-sudut pipinya, namun suaranya masih terkontrol.
Aku langsung menyadarinya, Marla pasti membuka Inboxku dan melihat cukup banyak nama Anita di situ. Seandainya dia membaca sms-sms itu dia pasti sadar bahwa aku dan Anita tidak lebih hanyalah dua orang sahabat.
“Dik, tolong jangan salah paham, Kalau misalnya Adik baca SMS-SMS itu, tentu Adik akan paham kalau-”, kata-kataku terpotong
“Adik sudah baca semua sms-sms itu Mas. Dan Adik paham betul bahwa seorang Anita adalah wanita yang luar biasa. Ketika Adik membacanya waktu itu, Adik sebenarnya sudah punya perasaan buruk. Setiap detil kehidupan Mas di Bandung pasti Mas ceritakan ke Adik, tapi sama sekali Mas nggak pernah menyebut nama Anita, padahal inbox Mas berisi banyak SMS dari dia Mas. Sebenarnya Mas, siapa pun yang masuk ke kehidupan Mas, Adik nggak pernah keberatan, selama Mas cerita ke Adik dan selama hal itu nggak mengubah sikap Mas kepada Adik”, Suaranya mulai sesengukan tidak tenang.
Aku memang tidak pernah menceritakan tentang Anita dan kehidupan baru yang kujalani di Bandung. Sebenarnya hal itu ingin kusampaikan sejak dulu, hanya saja setiap kali aku bertemu dengan Marla, lidahku jadi kelu kalau harus menceritakan hal itu. Namun, aku sadar bahwa cepat atau lambat aku tetap harus menceritakan semuanya kepada Marla.
“Tapi Mas…”, Marla melanjutkan kata-katanya. “Selama dua minggu ini Mas berusaha menghindari Marla, dan itu benar-benar menyiksa Adik Mas. Kenapa Mas nggak jujur sama Adik sejak awal?”
“Dik, Maaf, sungguh hal terakhir yang ingin Mas lakukan adalah membuat sedih Dik Marla yang begitu Mas cintai. Hanya saja…”, aku menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. “Ada satu hal yang selama ini tidak Mas ceritakan pada Adik”
“Oke, Adik siap mendengarkan”, katanya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia duduk diam, menungguku bicara
“Selama Mas di Bandung, ada yang berubah dari kehidupan Mas”, aku memulai cerita dengan suara tertahan. “Di Bandung, Mas punya kehidupan yang berbeda dengan di Jogja”
“Berbeda?”, Marla bertanya dengan wajah bertanya-tanya.
“Ya”, aku mengangguk. “Di Bandung Mas aktif di kegiatan keislaman. Dari situ, Mas mengalami perubahan paradigma tentang pergaulan antara pria dan wanita”
“Perubahan paradigma?”, ia bertanya lagi. “Maksud Mas, seperti anak-anak rohis di SMA kita. Nggak boleh jabat tangan, boncengan, dan-pacaran?”
mau tahu lanjutannya?
December 29, 2008 at 3:16 am
mau deh lanjutannya kumaha kang?